Eksportir Kopi Hadapi Masalah

sedang-memetik-buah-kopi_20151206_090418

 

 

TAKENGON - Para ketua koperasi fair-trade dari dua kabupaten bertetangga yang bergerak dalam bidang eksportir kopi Arabaika Gayo menghadapi sejumlah masalah, mulai dari pajak sampai perdagangan bebas. Mereka menemui Bupati Aceh Tengah, Drs Shabela Abubakar oproom Setdakab Aceh Tengah, Takengon, Selasa (23/1).

Ketua Jaringan Petani Asia Pasifik, Djumhur menyebutkan pertemuan para ketua koperasi dari Aceh Tengah dan Bener Meriah itu untuk menyampaikan beberapa hal terkait perkembangan komoditi kopi Arabika. “Selain itu, kita juga memaparkan beberapa persoalan di lapangan, terkait dengan komoditi ekspor ini,” kata Djumhur.

Disebutkan, ada empat permasalahan yang terjadi selama ini, mulai dari penurunan produksi kopi, kebun yang tersertifikasi organik fair-trade berada dalam kawasan hutan, sehingga dikenakan iuran hasil hutan non kayu. Kemudian, pajak penjualan dalam negeri 10 persen, serta dampak pasar bebas, sehingga perusahaan multinasional akan bersaing dengan pedagang daerah.

“Besarnya pajak penjualan serta iuran hasil hutan non kayu, tentu membebani koperasi serta para petani kita,” sebut Djumhur. Dikatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini, hasil produksi kopi arabika Gayo mulai menurun. Dia mengungkapkan terdapat beberapa faktor penyebab menurunnya komoditi ekspor dari wilayah tengah Aceh ini, seperti pengaruh iklim global, tanaman sudah tua, intesitas serangan hama penyakit, kesuburan tanah, pemangkasan dan tanaman pelindung. “Rata-rata hasil produksi kopi, 750 kg/hektare/tahun. Tapi sekarang, ada yang tidak sampai,” jelasnya.

Berkaitan dengan penurunan produksi ini, lanjut Djumhur, harus ada intervensi dari pemerintah dengan keberpihakan kepada petani kopi, sehingga regulasi yang ada tidak membebani petani. “Untuk itu, beberapa persoalan ini, kita sampaikan kepada bupati, mudah-mudahan ada solusi sehingga persoalan tersebut bisa diatasi,” tuturnya.

Adapun pertemuan dengan Bupati Aceh Tengah itu diikuti para ketua dan pengurus koperasi bersetifikasi fair-trade yang ada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Koperasi tersebut, khususnya bergerak di bidang eksportir kopi arabika Gayo. Sedangkan pernyataan dari Bupati Aceh Tengah tidak dilaporkan tentang permintaan solusi dari ekportir kopi tersebut.

Dilansir sebelumnya, kopi Arabika Gayo yang telah dikenal memiliki cita rasa tinggi di seantero dunia, bahkan menjadi menu utama di cafe Starbuck telah diakui oleh Uni Eropa. Lembaga hak paten Uni Eropa, Office For Harmonization in the Internal Market (OHIM) telah menyerahkan sertifikat registrasi ke Kemenkunham di Jakarta.

Surat pengakuan dari OHIM itu diterima Bupati Aceh Tengah, Ir H Hasanuddin MM dari Plt Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham, Aidir Amin Daud di Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (26/4/2017). Dirjen Aidir Amin Daud mewakili Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan.

Kabag Humas Aceh Tengah, Mustafa Kamal dalam pers release yang diterima Serambi, kemarin menyebutkan sertifikat merk kolektif kopi Arabika Gayo telah dikeluarkan pihak OHIM pada 26 Oktober 2015 lalu. “Sebelumnya, kita menerima salinan sertifikat tersebut, tapi kali ini sertifikat sebenarnya dari Kementerian Hukum dan HAM,” kata Mustafa Kamal.

Mustafa menjelaskan registrasi merk dagang merupakan salah satu tahapan untuk penerbitan sertifikat Indikasi Geografis (IG) kopi Arabika Gayo dari Uni Eropa. “Kita masih menunggu proses selanjutnya untuk mencapai IG dari Uni Eropa, tetapi harus melalui beberapa tahapan lagi,” ujarnya.

Kopi Arabica yang tumbuh di Dataran Tinggi Gayo telah mampu menghasilkan devisa sebesar Rp triliun per tahun. Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM langsung menabalkan kemampuan ekonomi rakyatnya yang bergelut dalam perkebunan kopi telah mampu melebihi kemampaun Pemkah Aceh Tengah.

“Kopi Gayo dari hasil kebun rakyat sudah mampu menghasilkan devisa sekitar Rp. 5 triliun untuk negara per tahun,” ungkap Nasaruddin ketika membuka Rakerwil Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (Patelki) ke-6 se Aceh di Takengon, Sabtu (26/3/2016).

Dia menjelaskan jumlah tersebut empat kali lebih besar dari APBK Aceh Tengah yang hanya berkisar Rp 1,25 triliun Dia mengatakan besarnya devisa dari hasil perkebunan kopi masyarakat tidak terlepas dari penetapan Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabica Gayo. Dikatakan, penetapan IG berdampak bagi importir yang menginginkan atau mencari kualitas kopi asli sesuai dengan wilayah asalnya, sehingga secara tidak langsung meningkatkan nilai tawar Kopi Arabica Gayo

Sesuai data Pemkab Aceh Tengah, Kopi Arabica Gayo sudah diekspor ke 17 negara atau di seluruh benua dengan importir terbesar, Amerika Serikat “Sejauh ini ekspor terbesar Kopi Gayo masih ke Amerika, dan secara bertahap grafik ekspor ke Uni Eropa dan Asia Pasifik juga sudah mulai meningkat,” demikian Nasaruddin.(my/muh)

sumber: http://aceh.tribunnews.com/2018/01/24/eksportir-kopi-hadapi-masalah