Rekor Muri Kopi Termahal dari Gunung Patuha Ciwidey

 

Write Your English News content Here.

 

KOPI Gunung Patuha, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat mendapat sertifikat rekor MURI sebagai kopi termahal di Indonesia, pada Jumat, (17/11). Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Senior Manager Museum Record Dunia Indonesia Yusuf Ngadri, kepada pemenang lelang, Lucy Tedjasukmana di Coffee Tour 70 Fahrenheit Koffie, di Jimbaran.

"MURI mengapresiasi kopi Arabica yang meraih harga tertinggi di Indonesia pada 2017. Semoga record ini dapat memberdayakan semua pihak, terutama petani kopi di Indonesia," kata Ngadri usai memberikan sertifikat MURI tersebut.

Kopi Gunung Patuha, Kabupaten Bandung ini menjadi pemenang lelang kopi micro lot yang digelar oleh SCAI, pada 20 Oktober lalu, berbarengan dengan acara Asia Pasifik Coffee Conference, di Jakarta. Kopi tersebut diganjar Rp2.050 000 per kg.

Ini rekor tertinggi harga kopi di Indonesia sepanjang masa. Tahun lalu, pemenang kopi hanya mencapai harga Rp 650 ribu. Adapun pemenang lelang kopi tersebut yakni, 70 Fahrenheit Koffie Bali.

Ketua Dewan Pembina SCAI Delima HA. Darmawan mempertanyakan kenapa Suryadi Suryadhamma, President Director 70 Fahrenheit Koffie mau membeli kopi Gunung Patuha, padahal harganya sangat mahal?

"Semoga apa yang dilakukan Pak Suryadi dapat mempromosikan kopi Indonesia di tingkat regional maupun international, sekaligus mendukung perbaikan kualitas dan mutu kopi Indonesia," kata dia.

Menanggapi pernyataan Delima, Suryadi menyatakan, kualitas kopi ini bagus dan spesial, karena cara mengolahnya sangat baik.

"Untuk kopi terbaik saya berani membayar kopi semahal itu karena tujuannya adalah untuk membuat petani kopi bangga pada apa yang sudah mereka buat untuk meningkatkan mutu kopi," ujarnya.

Sementara itu, Lucy Tedjasukmana, owner gravfarm, pemenang lelang kopi micro lot mengatakan, ini bukan kemenangan untuk dirinya, tetapi kemenangan bagi petani kopi, khususnya di Ciwidey.

"Karena kemenangan ini kopi Ciwidey sekarang naik derajat. Kalau sebelumnya harga kopi di Ciwidey sekitar Rp60 ribu sampai Rp80 ribu, sekarang di atas 100 ribu," kata dia usai menerima penghargaan tersebut.

Lucy merasa bersyukur kopinya meraih penghargaan MURI, tapi juga kaget atas apresiasi yang berdampak luas pada petani kopi, khususnya petani kopi Ciwidey.

"Mereka menjadi lebih bersemangat lagi untuk menghasilkan kopi terbaik," ucap perempuan yang memiliki 200 petani binaan di Ciwidey ini.

Pada acara ini juga, 70 Fahrenheit Koffie mengajak para awak media, penggiat kopi, pemilik kedai atau kafe kopi untuk mencicipi kopi termahal tersebut. Komentar beragam muncul terkait kopi tersebut.

Sejumlah orang yang hadir di acara tersebut surprises dengan cita rasa kopi tersebut.

Ketua SCAI A. Syafrudin mengungkapkan, kopi Gunung Patuha menghasilkan cita rasa yang baik karena proses pengolahannya juga luar biasa. Proses pengolahannya secara black honey, yakni dimulai dengan memilih bibit yang baik, memetik buah kopi yang merah saja, dan melakukan proses penjemuran hingga 31 hari. Berbeda dengan proses lainnya yang hanya butuh waktu 1-2 minggu saja.

Menurut dia, kopi Gunung Patuha itu rasanya spesial. Seperti ada rasa wine dan alkohol, padahal tidak ada kandungan alkoholnya.

"Kalau seruput sedikit saja, terasa campuran dark coklat dan wine. Semakin dalam, semakin terasa di lidah kiri dan kanan ada rasa lemon tea. Minum kopi ini terasa seperti kita minum light wine, itu bukti bahwa kopi yang spesial," tuturnya.

Sementara itu, Sutrisno, Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember yang ikut mencicip kopi mengatakan, dia sangat mengapresiasi penyelenggaraan lelang kopi tersebut. Pesertanya nyaris adalah kopi-kopi terbaik di Indonesia.

"Tapi, kopi Gunung Patuha pantas dapat harga setinggi itu, karena kualitas kopi ini luar biasa. Dengan adanya kopi berkualitas baik ini, maka Indonesia adalah negara penghasil kopi yang patut diperhitingkan di dunia internasional," ujarnya. (OL-6)