Kopi Rasa Wine, Bagaimana Memproduksinya?

 

Write Your English News content Here.

 

Cita rasa kopi umumnya pahit  dengan aroma  khas. Tapi berbeda dengan kopi produk Gravfarm Indonesia, di Gunung Patuha,  Ciwidey, Jawa Barat. Rasanya ‘eksotis’,  unik dengan rasa fruity.

“Kalau disesap agak ke dalam lidah, seperti ada rasa wine, ada rasa fruity yang lembut,” kata Syafrudin, Ketua Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) saat mencicip kopi itu di 70 Fahrenheit  Koffie, Jimbaran, Bali, beberapa waktu lalu.

Bagaimana Lucy Tedjasukmana, pemilik Gravfarm Indonesia, mengolah kopi sehingga menghasilkan cita rasa unik,  ada rasa wine? Dia bercerita Agar kopi menghasilkan  rasa fruity, harus diperhatikan betul sejak pemilihan bibit hingga pengolahan pasca panen. Dipilih  bibit kopi Arabika terbaik, dengan perwatan dan pemupukan terbaik pula hingga berbunga dan  berbuah.

“Saat panen,  kami petik biji kopi hanya yang merah tua, merah sempurna  atau red cherry. Yang belang-belang seperti merah – hijau atau merah – kuning , tidak kami  dipetik, ” katanya.

Menurut perempuan asal Bandung ini, bobot kopi juga harus diperhatikan. Kopi yang mengambang di air berarti kurang bagus.  “Selanjutnya  kopi yang merah tua kita kupas lalu dijemur,”  kata perempuan  yang membina 300 hingga 400 petani kopi di Ciwidey ini.

Lucy menjelaskan, dirinya melakukan penjemuran, honey process, selama 31 hari. Ini yang membedakan dengan penjemuran semi wash yang umumnya dilakukan para petani kopi yang  tak lebih dari 7 hari.  .

Mengapa sampai 31 hari?  Proses penjemuran yang lama dapat mempengaruhi cita rasa kopi menjadi special. Biji kopi yang dijemur hingga 28 hari,warnanya  berubah menjadi black dan untuk mencapai black sempurna ditambah 3 hari lagi. “Maka  honey process pun menjadi sempurna dan menghasilkan cita rasa kopi yang bagus,” ujarnya.

Tak hanya itu,  waktu penjemuran juga harus diperhatikan. Biji kopi dijemur mulai pukul 07.00 hingga 11.00 siang. Lalu biji kopi di-resting atau di-istirahatkan di tempat yang kedap, agar aromanya tidak hilang. Besoknya dijemur lagi, begitu seterusnya hingga 31 hari hari.

“Inilah yang disebut honey process hingga warna kopi betul-betul black melalui proses penjemuran alami,” ujar Lucy

Itulah proses ‘pengolahan’ kopi yang kemudian terjual dengan harga fantastis, Rp2,050,000 per kilogram dalam lelang micro lot yang digelar Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI)Oktober 2017. Pemenang lelang adalah Suryadi Suryadhamma, pemilik 70 Fahrenheit  Koffie, sebuah tempat tour koffie di Jimbaran, Bali.

Itulah harga tertingi dalam sejarah lelang kopi di Indonesia, yang  akhirnya  dibukukan di Museum Rekor Indonesia (MURI).  Sebagai  perbandingan, pada lelang yang sama tahun sebelumnya  (2016),  kopi Arabica tari Toraja, Sulawesi Selatan, terjual dengan harga Rp650 per kilogram.

Kopi Ciwidey  pun semakin popular.“Kopi Ciwidey  sekarang harganya naik,”  kata Lucy yang berdomilisi di Bandung  itu.  (Saeni)

 

Sumber: www.baliluwih.com